Kala matahari beringsut menuju tahtanya
Aku bertemu dengannya
Ya, aku masih ingat waktu itu
Ia masih terlihat sama
Seperti sketsa di benakku
Simfoni kasih kembali mengalun
Aku menutup telingaku
Menghalau sayang
Mengerahkan otak
Mengedepankan logika
Ia datang dengan topeng
Menenggelamkan kerapuhan
Di bawah pelampung ketegaran
Seolah merefleksikan diriku
Aku menyaksikan ia tertegun
Menyesali nasib
Bulir-bulir kepedihan mengalir di pipinya
Berharap padaku
Aku tahu sendu membelenggunya
Kusadari ia butuh aku
Merangkulnya
Menentramkan hatinya
Ia hanya diam menerawang
Berdoa agar aku paham
Namun, ia bukan munafik
Menyesal…
Melepaskan genggaman tangannya dariku
Bersalah mengakhiri segalanya
Satu hal kini kusadari
Ia merasakan perih
Sama sepertiku
291205
No comments:
Post a Comment