Tuesday, August 16, 2011

Dia Pun Sama

Kala matahari beringsut menuju tahtanya
Aku bertemu dengannya
Ya, aku masih ingat waktu itu


Ia masih terlihat sama
Seperti sketsa di benakku


Simfoni kasih kembali mengalun
Aku menutup telingaku
Menghalau sayang
Mengerahkan otak
Mengedepankan logika


Ia datang dengan topeng
Menenggelamkan kerapuhan
Di bawah pelampung ketegaran
Seolah merefleksikan diriku


Aku menyaksikan ia tertegun
Menyesali nasib
Bulir-bulir kepedihan mengalir di pipinya
Berharap padaku
Aku tahu sendu membelenggunya
Kusadari ia butuh aku
Merangkulnya
Menentramkan hatinya


Ia hanya diam menerawang
Berdoa agar aku paham


Namun, ia bukan munafik
Menyesal…
Melepaskan genggaman tangannya dariku
Bersalah mengakhiri segalanya


Satu hal kini kusadari
Ia merasakan perih
Sama sepertiku
291205

No comments:

Post a Comment