Thursday, September 8, 2011

Sudah sekian lama
Sentil kecil tak menyentuh
Hingga merasa tetes saat itu
Adalah suatu keajaiban

Genggaman kebahagiaan
Menghambur dari tangan kecil ini

Padahal baru saja terluka
Serangan serdadu yang sama

Suatu kedengkian
merasuki jiwa
yang telah bersusah payah tenang

Kini hanya bersandar
pada sebuah tiang lapuk
Dan memaksanya tetap berdiri
Kokoh menopang diri

Tergeletak
Menantang matahari
Nan duduk angkuh
di singgasana birunya yang membentang luas
Menunggu mereguk embun
Membasahi wajah
Meresap hingga relung jiwa

Mengencangkan ikatan
Meski berarti ingkar
Namun tak ingin lagi
tergelincir
Kemudian terhempas
Lalu jatuh di kelam yang sama
290507
Sekuat apapun
Rapuh memaksa kepedihan mengalir
Akan lebih kuat
menekan perasaan
Agar tetap tenggelam
Tak muncul ke permukaan

Percaya harus dienyahkan
Karena tak lagi memberi efek berarti
Pada suatu tujuan lampau

Saat sorot baru datang
Merentangkan tangan
Mendekap datangnya cerah
Hingga luluh tanpa terasa

Tetap dalam duduk diam
Kebekuan meleleh
Merambat ke angan lain

Tahu merasakan rasa
Melenyapkan rasa pendam
Kendati alasan berbeda
Menyakiti hati
Sebuah senyum terulas
Saat mentari hadir lagi
100307
Aku akan menelan airmata ini
Membiarkan tetap tenggelam
Tak boleh lagi mengintip
Di pelupuk mata bodoh ini

Semirip apapun sebuah kisah
Dengan cerita hidupku
Yang kupaksa berakhir
Hingga prosa ini tak jelas

Kan kubekap kalbu
Memaksanya mengatupkan bibir
Memberi hukuman
Pada pembeber rahasia

Tak boleh...
Jangan!
Kularang keras

Berjanji pada ruh dalam diri
Bertahan bukan berarti tanpa arahan

Tak akan berbeda jauh
dari tulisan sebelumnya
Hanya torehan tekad
Dan kebulatan niat
090207
. . .
! ! ! !
? ? ? ? ?
Tak tahu caranya memulai tulisan ini
Dengan berat hati
Kubuka kembali buku ini
Terpaksa kutulis lagi kisah
Bercerita tentang...

Aku merasa sosok inspirasi
telah melayang jauh
Dan tak sedikitpun terbersit niat
mengejar...

Tertatihku menyeret langkah
Hingga bisa kembali pulang
di tengah sesatku mencari jalan

Sapaku membantah
Menolak menggetarkan hati
Meski kisahku berusaha menjawab
Dalam caranya menerobos
Menyeruak celotehan
Setelah terabaikan

Aku terlalu sakit
Terlalu lemah untuk bangkit
Terlalu takut untuk berjuang

Yang kutahu hanyalah bersandar
Pada kebekuan kalbu
Dan saat ini
Yang kubisa hanyalah
Berteriak dalam diamku
151206
Ia masih saja bisa mengacaukan pikiranku
Merusak gravity pada neuron otakku
Membuat sel syarafku kusut

Telah kuhalangi agar tak mengalir
dalam laju darahku
Namun ia telah menembus pori-pori
dan langsung menusuk nadi itu

Setiap helai rambutku
Memagari relung hati
Agar ia tersesat
Walau mustahil terjadi

Paru-paru kutahan bernapas
Karena setiap hembusan
Akan menyertai namanya...lagi

Kuingin berhenti memusat
di titik nadir
Dan kemudian...
MATI
121206
Dengan menegapkan tangan
yang bergetar ini
Aku harus kembali menulis
Di atas lembar kebingungan

Membuka buku yang telah kututup lama
Melukiskan kembali cerita
yang kukira telah berakhir

Layaknya si pemahat buta
Menancapkan pahat pada retakan
Tentunya akan mematahkan keindahan
Menjadi keping tak berharga

Meski sepenuhnya tahu
Tak kan lagi merdu bernyanyi
Bodoh itu tetap tak peduli
Karena energi hati
Tak mampu menutupi
191106
Hampir saja aku tenggelam
Pada dasar yang sama
Nyaris aku tercekat
Dalam kekeruhan lumpur


Pekatnya kelam
Meninggalkan bayangan panjang


Sosok inspirasi
Telanjang tertawa
Mempertontonkan kemurnian hatinya


Berlari bersama pasukan itu
Yang pernah membuatku muak
Karena berkhianat
demi suatu kesenangan


Ekspresi mengikat
Kepakan sayap yang akan melayang
Walau baru belajar terbang


Suatu dosa yang tercipta
Malah membawa surga
Bagi seorang pemuja buta


Laju arus nyaris membuatku hanyut
Kembali ke tumpukan delta
di ujung kisah


Angkuhku tidak mudah bertekuk lutut
Larangan keras atas berkibarnya bendera putih
Kendati mereka lelah
Meski ia menyerah
Aku akan melecut semangat itu
untuk terus berjuang
121006
Bahkan di saat aku lengah
Serdadu-serdadu itu kembali menyerangku


Orang terbiasa menghibur
dengan kata
"Aku selalu ada untukmu"


Namun, bukan maksudku menjadi setan
7 bidadari tak mampu
Menyelip di sedikit kosong itu


Aku yakin hampa
Sudah mulai merayapi
Untuak suatu perasaan baru


Tapi masih saja menepis
Dengan mereka ulang
Kronologi di benakku
Bahkan menuliskannya
Agar lebih nyata


Aku harus mengakui
Sesuatu yang dulu kuremehkan
Menyerang balik dalam kegentingan yang sama
Bahkan mampu meremukku


Aku tak pernah bermimpi
Menjadi seorang konyol yang menyiakan muda
Aku bahkan mengutuk jalan itu


Aku tak mau merugi atas kesalahan hitungan
Tapi aku masih belum sanggup menghitung
Hasil yang nanti bisa saja kudapatkan


230906, Midnight

Dia Masih Akan Selalu Ada

Izinkan aku sedikit mengenang
Sebuah masa indah lalu
Perbolehkana hatiku tenang sejenak
Dengan lukisan-lukisan itu
Ketika hiasan masih menggantung
Setiap kali anak panah lepas dari busurnya
Masih saja mengacu
Pada kesamaan sasaran

Bahkan kabar tersiar
Masih mampu menyanjungku
Dan aku tak bisa berhenti
tersenyum

Mungkin di sisi lain hatinya
Masih mengasihaniku
Dan mungkin sedikit sayang masih mengalir
Mungkin ia belum berani
Melepaskan tangannya
Karena aku akan melangkah
Tanpa iringan kakinya

Karena itu ia tenang
Karena itu ia tersenyum
Karena itu ia selalu ada di sana
Meski dengan cara berbeda
Dia masih akan selalu ada
100906

Terdalam yang Pernah Kurasa


Saatnya mengakhiri roman
Karena sebuah ujung sudah terlihat

Nama darinya akan terhapus
Mutiara simpanan hilang

Tidak hanya pengelana
Yang tak akan pernah kembali pada landasan
Tapi juga gadis kecil
Akan ‘benar-benar’ menjauh
Janji terikrar dalam hati
Pasti mampu tegar

Akan tetap kulagukan
Nyanyian itu
Kendati sakit akan mengiris

Kapanpun airmata turun atas namanya
Itu akan menjadi tetes terakhir

Buku ini akan kututup
Dengan akhir yang kutulis sendiri
Tulisan ini akan mengerti
Seperti siapapun yang akan membacanya nanti

Aku akan menyimpannya tetap di hati
Namun tak akan pernah lagi kutelusuri
Biarlah tetap menjadi
‘terdalam yang pernah kurasa’
100906

Kenapa pagi hanya terlukis
Saat matahari terbenam
Kenapa malam membawa kelam
Tak pernah kurasakan
Indahnya senja

Kenapa sinar matahari tak mampu
Menembus awan membumbung
Haruskah kembali badai menghempas
Setelah menerbangkan laying-layang angan

Berusaha berteduh dari hujan lebat
Berlindung dari badai
Menghindar dan menepi
Sembari menanti cerah hadir lagi

Bulan telah mengintip
Untuk menantikan mentari
Berusaha sedikit menerangi

Akan ada sedikit celah
Di kemudian hari
Untuk sebuah keikhlasan hati
050906

Mencoba berlari
Meski napas terengah
Berlari demi suatu hati
Menanti

Waktuku tengah dihitung Sang Penguasa
Kisahku tinggal sepenggal masa

Regukan kenikmatan ini
Membuatku lengah
Segarnya petikan sari tawa
Membuatku lupa
Pada suatu kekangan
Yang akan memperlihatkan sosok hidupnya

Sesak…
Saat detakan waktu
Singgah di telingaku
Sesak membuatku kalut

Aku ingin melangkah
Keluar dari sejuta kemelut
Di hidupku yang kusut

Satu-satunya cara mesti kutempuh
Aku merangkak untuk belajar melangkah
040906

Rasa Tetap Tak Jua Pergi


Sengaja bangkai-bangkai kuletakkan
Mengelilingi taman hati
Namun wangi tetap mengisi

Goresan dalam
Yang tertoreh lama
Tak dapat menutup lagi
Merekah perih

Lumut telah mengelilingi
Merintis ciptaan baru
Rasa tetap tak jua pergi

Mungkin yakin ini
Membutakan sanubari
Kendati sering tersakiti

Tangisan bukanlah cara bertahan
Atas nyeri kali ini
Karena air mata
Takkan membantu menyuburkannya

Kebusukan kuhadirkan
Mengusir harumnya masa lalu

Kutukan telah kuucapkan
Masih saja hati ini
Meluncurkan hangatnya
Sanjungan

Setelah seringkali mengingkari
Rasa tetap tak jua pergi
190806

Hari ini
Satu putaran penuh revolusi
Yang menentang hokum galaxy
Aku masih merasakan
Manisnya semangat hidup

Momen ini
Dalam bisikan ‘bima sakti’
Satu mimpi nyaris kutelusuri
Mimpi bodoh untuk bersama kembali

Angan di kala itu
Masih terukir jelas
Tersaji lagi
Tanpa adanya kekaburan suasana hati

Aku memang lepas kendali
Namun memukau anggun
Layaknya bayangan sejuk




Kini…
Inginku menulis sejarah baru
Masih tentangnya bersamaku
Tapi dalam wadah berbeda

Tak akan pernah lagi
Aku membohongi ekspresi ini

Karena obsesi tak terwujud
Akan kucapai esok hari
160806

Kabut menyelimuti
Kemudian lenyap bersama angin
Dan muncullah hangatnya
Suasana hati mentari

Musim berganti
Emosi menumpuk
Ketika peti harta kosong diberikan

Pengelana menyodorkan itu pada perempuan kecil
Memberi titik hitam
Pada lembaran kemuliaan

Kabut kini menebal
Hingga hampa terasa
Tak mampu berucap kata

Hilangnya bagian penting hidup
Tak menyurutkan niat sang pengelana
Menghampiri peri mungil
Yang duduk anggun tersenyum

Gadis kecil masih menantikan
Pengelana kembali hadir pada landasannya
Walau sadar sesuatu melayang

Lirik baru berarti sama dilantunkan
Namun improvisasi pada suatu dilema
Membuatnya sumbang

Peri mungil itu tak perlu memohon
Karena semua ditawarkan cuma-cuma
Hingga perempuan kecil hanya mampu
Meraba-raba di kegelapan

Perempuan kecil menjauh
Membuang cengeng dari doanya
Ia akan kembali merata
Masa-masa indah
Yang berawal dengan cinta
Berakhir karena realita
200506
Membaca sebuah tulisan
Bait lirik tertulis
Dari seorang penyair
Pujangga hati


Tersanjung di awal
Merubuhkan keangkuhan
Kala makna dapat diterka
Terpecahkan sebuah maksud
Itu teruntuk pada-nya


Biaya mahal harus dibayar
Atas sebuah permohonan


Kumpulkan kembali puing hati
Kepingan yang hilang
Satu demi satu


Relief di sekelilingnya
Kabur tak membekas


Harusnya lirik tersebut
Teruntuk pada pencerita kisah
Yang menciptakan ribuan tulisan indah


Ingin bisa membacakan
Agar pujangga mengerti
Kemudian menjadi prosa intuisi


Namun,
Tak hanya syair
Adalah lagu dengan melodi hati
Lantunan untuk pesaing
Senandung di kemudian hari
240406

Ucapan dalam berlalu
Cela keluar dari gua
Pengucap suara indah
Kala itu…

Bekasnya tak hilang
Pada sebuah jejak dalam membatu

Kecewa mampu memecahkan
Semua sunyi di hati
Doa sang kalbu
Di balik semuanya
Secercah cahaya menyala

Emosi mengendalikan kerja syaraf
Mengatur denyut jantung
Berdetak setiap detik menuju menit

Sejenak lega
Saat yang keluar dari gua
Adalah ratapan syair
Dari sebuah lirik
Lantunan melodi sezaman

Terbuai mutiara simpanan
Satu bagian penting hidup
Hilang membingungkan

Terkejut ketika busur panah
Mengacu pada kesamaan sasaran

Satu hati kini tersenyum
Dalam gelak kepuasan
Dendam hilang
Karena suatu terbilang

Menyerupai kisah
Gadis kecil dan pengelana
Walau malam menjelang
Semua takkan hilang
Sayang…
230306

Lelah menguasaiku
Setelah menghitung
Hari yang telah kulalui

Waktu berlari cepat
Ceria hanya kutinggalkan beberapa saat
Namun, kesadaran terlambat
Sejuta perubahan menghujat di depan mata

Penat hatiku menanti jawaban doa
Yang mampu menyapu air mata
Memunculkan kembali tawa

Bosan dengan kabut harapan
Meski permohonan tak pernah pergi
Dari mulut nakalku

Marah pada kebodohanku
Atas tangis untuknya
Terbuang sia-sia
Tiada guna
Air mata yang terkuras
Meleleh mengikis kulit logika

Iri akan tawa sekelilingku
Heran,
Kenapa dunguku masih di sana?
Mendung memandanginya
Orang yang menuduhku atas kegagalannya
Menyalahkanku merusak mimpinya
Tanpa tahu
Aku lebih kecewa
Atas impian yang sama
200306

Perempuan kecil mengulum senyum
Saat pengelana singgah
Mengulurkan tangan

Perempuan kecil sudah lama menanti
Genggaman tangan itu

Kecanggungan hilang
Setelah lama merantai
Hubungan yang pupus

Perempuan kecil menengadah puas
Merasa akan jawaban doanya
Menghampiri
Firasat impian akan segera terwujud
Dalam segemerincing goyangan lonceng

Dengan manis pengelana bercerita
Di antara kumpulan invidu
Fokus pada suatu titik
Meski menyamar ngambang

Perempuan kecil melebarkan senyum
Mata binar yakin
Mengerti isyarat si pengelana

Perempuan kecil membebaskan
Segala kekakuan
Menghapus kabut
Yang membuat pandangan samar

Mencoba mendekat
Mengukuhkan dekapan
Memaku tatapan
Tak ingin begitu saja lepas

Harapannya semakin dekat
Pengelana akan membawanya serta
Seindah perjalanan kelak
100306

Sebuah kisah telah berakhir
Di salah satu kaki langit
Hancur lebur

Kisah ingin kembali membangun kasih
Secepat kemampuannya

Sang pendahulu masih tak berhenti
Dalam doa dan ibadahnya
Memohon pada Sang Pencipta

Langit tak sulit
Menyatakan sesal
Pada setiap pendatang

Terdahulu selalu kesal
Sesal hanya dalam sedu sendu
Tak seberani kesatria impian

Kehancuran itu memunculkan
Sebuah senyum sinis kecut
Dari pemilik bangunan alam

Jenuh akan harap
Mengurangi sebagian kewarasan
Akan tetapi sangat melegakan
Melepaskan semua rasa terbelenggu

Titah menginginkan
Puing lain mengukuhkan kembali tiang
Penyangga sebuah keutuhan

Satu hal begitu jelas
Semua akan berlalu layaknya waktu
Jangan cemari dengan suatu ambigu
090306